Kamis, 28 April 2016

PAK ABAD Ke-6 sampai ke-14

chyntyasaragih3@gmail.com

Pendidikan Agama Kristen Pada Abad Pertengahan (Abad ke-6 sampai Abad ke-14)[1]

I.        PENDAHULUAN
Pada sajian sebelumnya kita telah membahas sajian tentang PAK pada masa kuno dan PAK pada abad 2 dan abad 4. Dan pada pertemuan kali ini kita akan membahas tentang Pendidikan Agama Kristen pada abad pertengahan, dimana pada masa ini akan mempelajari tentang Wadah Pedagodis pada PAK yang dikembangkan melalui jemaat. Semoga sajian ini dapat menambah wawasan kita.
II.      PEMBAHASAN
2.1.   Latar Belakang PAK pada Abad Pertengahan
Ketika tentara Gotik dibawah komandan Raja Alarik masuk ke kota Roma pada tanggal 24 Agustus tahun 410 M. Kemegahan kota itu sudah berlalu meskipun secara resmi ia masih tetap hidup sebagai kerajaan Romawi sampai tahun 476 M. Dan dibagian Timur sampai tahun 1453 M. Sementara itu, pelbagai Paus mengambil kekuasaan umum yang ditinggalkan oleh kejatuhan semua lembaga Romawi. Dan proses itu terjadi secara berangsur-angsur sampai puncak ketika Paus Gregorious Agung (590-604) mengklaim mahkota dan tongkat Raja sebagai milik Kepausan. Dan dia hanya mewujudkan kepausan dalam arti luas yang tersirat dalam mandat yang diberikan kepada Petrus oleh Tuhan Yesus sebagaimana yang tertulis dalam kitab Matius 16:19 “Kepadamu akan ku berikan kunci kerajaan sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepasa di sorga”. Jadi kekuasaan di gereja tidak hanya mengurusi rohani saja, tetapi termasuk urusan politis. Pada pokoknya kekuasaan kunci itu mencapai puncaknya secara simbolis ketika Karel raja negeri Frank dinobatkan sebagai raja kerajaan Roma suci oleh Paus Leo III pada hari natal tahun 800.
Pada tahun 1077 di Kannosa, Italia Utara, persaingan antara Kaisar dan Paus berlangsung dalam bentuk amat dramatis ketika Paus Gregorious VII menang atas diri kaisar Henri IV dari Kerajaan Roma Suci walaupun hanya sementara saja. Tujuh tahun kemudian, Kaisar Henri masuk Italia kembali. Sebagai catatan kaki yang perlu diingat pengalaman pahit raja Henri itu hidup kembali dalam ucapan Reichskanselar Otto Von Bismarch dari Prusia Bismarch berbicara tahun 1871 “kami tidak akan pergi ke Kanossa”. Sesudah Kaisar Henri dan Paus Gregorius VII wafat, perjuangan antara kutup kekuatan itu diwariskan kepada penggantinya pada tahun 1299.
Mulai tahun 1378, kepausan di Avignon tetap berlangsung sementara di Roma Paus yang bersangpun dinobatkan pula, dan selama 40 tahun masing-masing mengangkat uskup menjadi anggota Kolege Kardinal seakan-akan Paus yang lainnya tidak ada. Dan raja Sigismund mengeluarkan undangan yang dikirim ke uskup, biarawan, sarjana, pastor, dan yang lainnya agar semua berkumpul pada tahun 1414 dikota konstan dekat tapal batas negeri swiss. Mereka bekerja disana sampai tahun 1418. Tentang keterlibatan mereka ke Yohannes Hus, mereka mempertahankan diri dengan jalan mengutip ucapkan Kayafas (Yoh. 11:50b).
Dan nampaknya Pendidikan Agama Kristen yang mencerminkan keadaan budaya yang merupakan lingkungan luas dari pada jemaat, yaitu kebudayaan yang tuna aksara. Sementara itu terdapat dua macam siasat yang pertama ruang lingkupnya kebanyakan kepada warga jemaat sedangkan kedua kebanyakan diarahkan kepada warga dengan jumlah yang secara nisbi sedikit sekali. Sesuai dengan kedua sifat itu, Pendidikan Agama Kristen yang nampak pada abad pertengahan akan dibahas dibawah ini.
2.2.  Pendidikan Agama Kristen Melalui Agama dan Rupa Lambang
Gaya berfikir secara simbolis mempunyai sejarah panjang, khususnya dikembangkan dalam kebudayaan dimana saja untuk menyampaikan kebenaran rohani. Alasannya karena alasan apapun melibatkan para pemeluknya dalam keprihatinan-keprihatinan yang mustahil dibatasi dengan dunia ini saja. Justru keadaan bersejarahlah dari Gereja Abad Pertengahan merupakan tanah subur bagi perkembangan simbol-simbol yang mendobrak hati jemaat, antara lain :
2.2.1.     Gereja mendidik melalui Sakramen Baptisan
Persyaratan ketat yang dikembangkan Gereja Purba yang wajib dipenuhi oleh setiap calon baptisan sebelum diterima sebagai anggota sah. Bagi Gereja Purba, kebudayaannya menghargai kepentingan pendidikan. Oleh karena itu calon pendeta maupun sidi rela dalam melibatkan diri dalam pembinaan yang memupuk daya berpikir para pesertanya dan memperlengkapi mereka dengan peralatan yang diperlukan agar mampu bertindak sebagai murid Tuhan dan Guru Agung mereka. Kemudian pada abad pertengahan lingkungan luas demikian tidak ada lagi. Dan bagi para warga jemaatnya tradisi menghargai kehidupan berfikir sudah hilang. Banyak Pendeta atau imampun belum dididik seperti yang dialami para pemimpin yang melayani jemaat-jemaat Gereja Purba. Gereja abad pertengahan mengembangkan tindakan yang cenderung mengutamakan kesan atau perasaan dalam diri para warga daripada menambah sejumlah pengetahuan, pengertian dan pengabdian diri. Sebagai contoh tentang kemerosotan persyaratan bagi calon baptisan yang dimaksudkan isi dari bagian liturgi sakramen gelasiusyang berasal dari abad ke-8 dan dikembangkan di negeri perancis.
2.2.2.     Mendidik melalui Sakramen Misa
Selama warga jemaat beribadah, mereka dididik melalui panca indera yang menolong mereka menyerap sebagian dari makna simbolis dari tindakan yang sedang berlangsung, yaitu :
1.       Mereka melihat sang Imam dengan baju jubah yang sampur dan warnanya sesuai dengan warna khusus yang ditentukan. Dan dengan itu mereka semakin sadar dengan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan pelayanan Yesus.
2.       Mereka melihat jendela berwarna yang menunjuk pada sejumlah peristiwa alkitabiah dan gerejawi khususnya tahap-tahap dalam jalan ke Golgata.
3.       Mereka mencium asap kemenyan yang sedang dibakar, suatu pengalaman yang mempertinggi misterinya .
4.       Mereka sedang mendengar suara kor yang mengisi ruangan. Gereja dengan musik sorgawi disamping ucapan imam yang membaca kata-kata liturgis.
Dalam pelaksanaan Sakramen Misa nampaknya pula akar dalam Gereja Purba tetapi seperti halnya sama dengan sakramen baptisan bentuk lahirnya saja yang ditetapkan sedangkan maknanya dilalaikan.
2.2.3.     Mendidik melalui Drama Agamawi
Peranan Drama pada Gereja abad pertengahan sangat berbeda dengan pendapat para Gereja Purba. Bagi mereka yang terakhir ini jabatan pemain atau aktor adalah diantara sekian banyak panggilan hidup yang dilarang keras bagi orang Kristen oleh Tertullianus. Teater dinamakan Gereja Setan. Dan pendapat Agustinus yaitu dia mengakui bagaimana dia menikmati drama ketika ia masih pemuda, tatapi sesudah ia masuk Kristen dia mendekati masalah drama secara hati-hati. Drama itu tidak ditolak begitu saja, melainkan dapat dipakai asalkan dibersihkan dari semua unsur drama Kafir. Dan perbedaan ini akhirnya disimpulkan bahwa Drama diusir dari Gereja. Teater yang ditolak Gereja Purba nampak lagi dalam gereja abad pertengahan.
Tiga bentuk drama lainnya tidak berakar dalam pengajaran katekumenat dan oleh itu boleh dipandang sebagai perkembangan baru. Yang pertama ini memenuhi hasrat rakyat jelata untuk mengalami sesuatu yang lain lagi dari pada kesulitan hidup yang merupakan darah daging mereka setiap hari. Bagi warga ini, penderitaan Yesus sudah terlampau dekat dengan pengalaman mereka. Untuk memulai hasrat itu gereja mulai mengembangkan drama yang berporos kelahiran Yesus.
Drama  Everyman itu dibuka oleh seorang pembicara yang tampil di depan para hadirin sambil menyatakan pokok utama yang akan dipentaskan yaitu kematian. Tidak ada seorangpun yang menghindarkan diri dari pengalaman meninggal itu. Setiap orang akan dipanggil raja Sorga untuk mempertanggung jawabkan kehidupannya.
Yang ketiga Jalan ke Salib, setiap warga dapat mengikut Yesus selama berjalan ke Golgata. Dengan bentuk pedagogis yang tidak memerlukan kemampuan membaca para pelajar bukan hanya menonton atau mendengar saja. Merekalah pemainnya. Drama baru ini muncul di Eropa Barat sekitar abad ke-14 sebagai akibat pulangnya para pejiarah dari tanah suci. Disana mereka telah mengunjungi tempat-tempat geografis yang dikenal Yesus khususnya tempat Yesus mengalami minggu-minggu sengsara.
2.2.4.     Mendididk melalui Seni Lukis/Patung dan Buku Naskah yang Berhiasan (Illuminate Manuscripts)
Penggunaan seni lukis dan patung untuk memperlihatkan sejumlah peristiwa dari Alkitab sudah dipakai gereja untuk mendidik hampir sejak semula. Dari Perjanjian Lama diambil cerita-cerita Adam dan Hawa, Air Bah, Abraham, khususnya pengorbanan Ishak. Isi dari perumpamaan keempat kitab injil amat mendorong pada kreatif seniman. Tetapi bentuknya berangsur-angsur berubah. Bukan hanya gambar rupa Allah Anak, Allah Bapa saja yang dilukiskan ataupun diukir. Para seniman ingin menyadarkan para warga akan Allah berupa Trinitas tanpa mengurangi keesaannya. Salah satunya yang disambut baik pada abad ke-12 dan ke-15 dinamakan Gnadenstuh atau kursi kasuh karunia karna memang tempat asalnya Jerman. Contoh keduanya yaitru bertema Baptisan Yesus yang digambarkan Yesus berpakaian kain pinggang saja dan berdiri dalam kolam kecil bukan sungai. Dan Dia sedang di Baptis oleh Yohannes.
2.2.5.     Mendidik melalui Seni Bangunan Gereja-Gereja
Pada permulaannya, gereja tidak memiliki gedung-gedung khusus untuk pelayanan ibadah bersama sungguhpun demikian para warga tidak merasa diri dirugikan. Karna mereka memandang dirinya sebagai musafir yang berjalan dari bumi ini dengan semua kesusah payahan menuju kota Sorgawi sambil menanti-nanti kedatangan Tuhan Yesus yang sudah bangkit. Untuk orang-orang berkeyakinan. Dengan demikianmereka memanfaatkan gedung Basilika yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan perdagangan dan kenegaraan Roma. Daerahnya memperlihatkan sebuah gedung persegi panjang. Sesudah diambil alih untuk maksud Gerejawi. Gedung Basilika dengan langit-langit melambangkan landasan Iman yang tidak bergoyahkan. Diluarnya terdapat banyak tantangan bagi para imam warga, tetapi didalamnya ketebalan tembok dan mesbah melambangkan kota yang tidak akan goncang yang sama dengan Allah sendiri (Mazmur 46:6, 8).
2.3.   Wadah Pedagogis yang Dikembangkan pada Abad Pertengahan
Bagi masyarakat Abad Pertengahan yang pada umumnya Yuna Aksara, para warga dijangkau oleh rencana Pendidikan Agama Kristen secara formal sedikit sekali. Tetapi beberapa wadah bertumbuh untuk pengajaran Kristen, keterampilan membaca dan menulis, khususnya kepada kaum muda. Disamping jemaat wadah paling umum, akan dibahas sumbangan dari empat wadah lainnya yaitu sekolah katedral, universitas lembaga kesatriaan dan biara.
2.3.1. Jemaat itu sendiri sebagai Wadah Paling Umum
Wadah yang paling umum akan diserap dalam saksi tersendiri, karena masih ada beberapa pengalaman bersifat Pedagogis yang berlangsung pada Jemaat, yaitu ketujuh sakramen dan beberapa kepingan pengetahuan minimal yang diajarkan sedikit banyaknya kepada para warga jemaat.
Sakramen-sakramen itu dimaksudkan supaya anugrah disalurkan kepada setiap orang yang lazimnya menghadapi kemelut-kemelut kehidupan. Kemelut kelahiran : Gereja menyalurkan anugrah berupa sakramen Baptisan kepada si bayi yang terancam oleh “seribu satu” macam penyakit dan ancaman lainnya.
Pendidikan tidak langsung melalui tujuh sakramen itu masih memerankan peranan bermakna dalam Gereja Katolik Roma modern tetapi berbeda sekali dengan gereja pada abad pertengahan, pendidikan tidak langsung tersebut merupakan lingkungan luas bagi pendidikan Agama Kristen yang direncanakan Gereja Katolik Roma modern dan bukan kegiatan pokok. Namun pendidikan agama Kristen melalui rencana teratur walaupun dalam bentuk sederhana. Pada tahun 1281 Yohannes Peckham, uskup agung dari centerbury di Inggris, menyusun lambeth constitution yang terdiri dari sejumlah ringkasan, sejumlah teologis yang perlu diketahui oleh para imam. Kemudian isi yang sama wajib diberitahukan empat kali kepada kaum awam, yaitu Pengakuan Iman Rasuli, Dasa Firman, Kedua Hukum Baru yang diberlakukan Yesus, Ketujuh Kebaikan Utama, Ketujuh Kebaikan Brahmat, dan Ketujuh Sakramen. Dan pokok tersebut menjadi darah daging Pendidikan Agama Kristen pada abad pertengahan dan tidak ada yang lebih berbobot dari pada Doa Bapa Kami dan Pengakuan Iman Rasuli. Dan kesimpulan itu didukung oleh ucapan Joan’ Arc pada pengadilannya tahun 1431. Tinjauan itu ditunjang pula dengan laporan yang dikeluarkan oleh seorang Biarawan ordo Dominikan yang ingin supaya warga jemaat hidup setia kepada Roh Kudus. Tetapi usahanya tidak berbuah sesuai dengan yang diharapkan.
2.3.2.     Sekolah Kadertal sebagai Wadah Pendidikan
Barang kali sekolah pertama itu berasal dari keputusan Konsili Teledo (Spanyol) pada tahun 633 M. Menurut keputusan tersebut semua imam muda diwajibkan mempelajari isi alkitab,  Hukum Gereja dan keterampilan menyanyi. Semuanya itu berada dalam sebuah bimbingan gerejawan berjabatan tinggi.
Bagi sejumlah imam muda yang belajar pada sekolah kadetral itu pendidikannya bersifat penataran, tetapi bagi yang lainnya isinya sangat dasariah dalam arti mereka ini tuna aksara dan karena itu harus diajarkan menulis dan membaca. Rupanya sekolah-sekolah kadertal berkembang terus menerus sesudah keputusan Konsili Teledo, tetapi Gereja harus menunggu sampai tahun 1179, ketika diadakan konsili Lateran di Roma sebelum wadah pendidikan Agama Kristem menerima status dan struktur tetap.
Menurut keputusan Lateran, setiap uskup wajib mengangkat seorang sarjana untuk mengajar pastor-pastor disamping pelajar-pelajar imam muda dan miskin yang bukan pelayan Gereja. Pada tahun 1215 diselenggarakan kembali komisi kembali di Lateran yang memberlakukan kembali keputusan komisi Lateran pada tahun 1197, tetapi dengan isi tambahan sehingga gereja yang bukan Kadetral yaitu menjadi pusat keuskupan juga wajib mengangkat para ahli untuk mengajar baik pelayan Gereja maupun laki-laki muda miskin. Pada abad ke-12, sekolah Kadetral di Chartres mencapai pendidikan paling bermutu. John mengajarkan gaya yang nampak dalam diri Barnadus ketika ia mengajar sekolah Kadetral Chartres. Tata cara yang diajarkan dalam bentuk kontekstual.
Kurikulumnya terdiri dari pokok-pokok pelajaran yang menjelaskan imam Kristen disamping tujuh pokok seni liberal yang berasal dari akar subur Aristoteles, yaitu Trivium yang merupakan bagian studinya terdiri atas vak : tata bahasa, retorika dan logika. Untuk quadrivium, bagian atas terapat study berikut : ilmu musik, ilmu ukur, ilmu hitung dan ilmu bintang. Kurikulum berikut dinamakan kurikulum Liberal oleh Uskup John.
2.3.3.     Universitas Sebagai Wadah Pendidikan agama Kristen
            Pada mulanya universitas dibentuk demi pertahanan diri para pelajar, karena tidak jarang kaum muda berkumpul untuk belajar di bawah bimbingan beberapa ahli berasal dari sejumlah negara asing, karena itu mereka gampang untuk menjadi korban perlakuan yang tidak manusiawi yang dilakukan ileh para warga setempat. Untuk menjaga keamanan yang diperlukan demi maksud belajar, mereka mendirikan universitas. Kata universitas berasal dari kata Yautu Unus dan Versum. Unus berarti satu dan Versum berartikan menjadikan. Oleh karena itu artinya menjadikan satu atau menjadikan satu keutuhan.
            Fakultas Arteslah yang didirikan pertama-tama oleh universitas, suatu serikat pelajar dan pengajar. Pokok kuliah yang diberikan para dosen fakultas tersebut berporos pada pokok ketujuh pokok seni Liberal yang merupakan kurikulum wajib. Dan universitas paris justru mengutamakan travium yang paling cenderung diutamakan, sedangkan di fakultas artes-lah dari universitas Inggris quqdrivium yang paling cenderung menerima perhatian banyak. Para dosen cenderung memanfaatkan tiga pokok pendekatan.
1.       Biasanya seorang dosen berdiri di depan kelas dengan membacakan sebuah karangan dari masa Purba atau dari Bapa Gereja.
2.       Ia memberi tenggapan terhadap isinya.
3.       Dalil-dalil yang terdapat di karangan tersebut diperdebatkan oleh mahasiswa.
2.3.4.     Kesatriaan sebagai wadah Pendidikan Agama Kristen
            Khususnya bagi anak laki-laki golongan bangsawan, lembaga kesatriaan merupakan wadah keempat yang disediakan untuk mendidik kaum muda dalam unsur-unsur Iman Kristen, walaupun memang ruang lingkupnya terbatas baik dari segi jumlah pelajar yang terlibat di dalamnya maupun menurut isi kurikulumnya. Hubungan lembaga kesatriaan dengan gereja bukanlah cerita yang memuliakan nama-Nya, justru sebaliknya.
            Tahap-tahap pendidikan seorang calon kesatria termasuk dimensi Agama Kristen. tahap pertama, seorang lelaki berumur tujuh sampai empat belas tahun memperoleh tempat belajar sebagai pesuruh dirumah/istana seorang bangsawan. Disana ia membersihkan meja, memelihara pakaian tuan termasuk tugas membersihkan baju bajanya. Sebagai imbalannya ia diberi kesempatan untuk latihan bernyanyi, memainkan musik, membaca, menulis, belajar naik kuda dan menggunakan pedang. Pesuruh tersebut mempelajari pokok-pokok Iman Kristen “Doa Bapa Kami” pengakuan kedua belas Iman Rasuli, sejumlah cerita Alkitab, kebijakan-kebijakan Kristen, unsur-unsur dari Misa dan Nyanyian Rohani. Tahap kedua, calon berumur empat belas tahun atau sedikit lebih tua. Ia diangkat menjadi seorang pembantu di kandang. Dia turut memelihara kuda besar yang diperlukan untuk menanggung berat badan kesatriakesatria dan baju bajanya, membantu pertandingan yang berlangsung untuk memepertajam keahlian bertempur dari  punggung kuda yang sedang berlari. Dan ia diberi kesempatan untuk naik kuda menggunakan pedang dan sasaran latihan saat kudanya mencongkak dengan kencang. Dia juga dapat mengikuti tuannya ke medan pertempuran walaupun dia tidak terlibat secara langsung. Dan pendidikannya diteruskan dengan vak ilmu ukur, iumur, berbicara di depan umum dan kadang-kadang dia mempelajari bahasa latin. Dan dia pun  dilantik dan mengaku dosa dan memakan Roti Kristus dari tangan imam. Dan disitu pelayan Gereja mengucapkan nama Allah Anak, Allah Bapa, Allah Roh Kudus.
2.3.5.     Sekolah Diselenggarakan Biara
Kaum penghuni biara berusaha mewujudkan Injil Kristus dalam semua kegiatan mereka, termasuk dalam kewajiban belajar. Pentingnya pendidikan sudah tertulis di piagamnya dan tidak bergantung pada sikap kepala biara itu. Berbeda sekali dengan yang dikenal oleh biara. Apabila menurut peraturannya sebagian dari para biarawan yang berada di tempat itu wajib melibatkan diri dalam urusan pedagogis maka sudah ada struktur yang menyongkong pendidikan yang terlepas dari pendapat abbot sendiri. Dialah pelayan dari peraturan-peraturan abadi yang merupakan pedoman bagi penguyuban setempat yang dikepalainya. Tetapi gerakan kebiaraan bukanlah khas Kristen, karena ia dikenal dengan agama lain walaupun terdapat perbedaan cara-cara bagaimana parapemeluk setiap agama mengembangkan kehidupan bertapa mereka, namun mereka satu dalam keyakinan bahwa pertumbuhan rohani menuntut mereka mengundurkan diri dari urusan sehari-harimereka yang dikenal dengan kaum seiman mereka, bagi umat Kristen kehidupan bersama di biara di ilhami oleh isi khotbah di bukit (Matius 6:19-24).
2.4.  Beberapa Pendidik Besar
Pendidik besar yang berusaha memperbaiki keadaan yang dikenal warga-warga Eropa Barat, yaitu :
2.4.1.     Karel Agung (742-814)
            Tahun 771 karel bersama adiknya Karloman mengambil alih kekuasaan kerajaan Frank pada kewafatan ayah mereka Pepin yang pendek. Dan ketika adiknya sendiri meninggal tahun 771, Karel berkuasanpenuh atas kerajaan yang mencakup sebagian atau seluruh negara-negara modern, yaitu : Perancis, Jerman, Belanda, Denmark, Australia, Italia dan Spanyol. Prestasinya gemilang dibidang pemerintahan dan diplomatis yang diimbangi oleh keberhasilannya di bidang militer, kesenian, gereja dan pendidikan. Dan dia menerima predikat kehormatan Agung. Dia seorang raksasa diantara semua orang dibangsanya. Puncak kehidupannya tercapai pada 25 Desember pada tahun 800, dia dinobatkan sebagai Kaisar kerajaan Romawi suci oleh Paus Leo III. Pokok-pokok membanggakan hatinya berkaitan dengan usaha merajai negara yang berporos pada warga yang saleh dan terdidik.
            Raja Karel Agung sama dengan seperti raja yang lainnya, yang tidak enggan menggunakan kekuasaan militer untuk mencapai tujuan negara namun berbeda dengan kebanyakan dari mereka. Dia sangat cerdas sehingga ia membangun kerajaannya atas batu, yaitu batu pendidikan. Bagi karel pendidikan itu bukan baik dengan orang lain saja, ia pun ingin diajar dan dia adalah teladan bagi siapa saja entah dia muda atau dewasa. Karel berbicara secara lancar dan mampu mengucapkan pemikiran secara jelas, dia dapat berbicara dalam beberapa bahasa asing. Beliau murah hati dan penyongkongannya terhadap semua orang terpelajar. Dia belajar tata bahasa dari Petrus, seorang diaken dari pisa yang telah lanjut usianya. Dan untuk mata pelajaran lainnya, pengajar pokok adalah Alkwin yang merupakan seorang diaken pula. Tahun 787 karel mempertinggi pendidikan, khususnya dia mengeluarkan proklamasi pedagogis yang amat bermakna dalam sejarah pendidikan.
2.4.2.     Alfred Agung (742-814)
Alfred lahir tahun 849, ia merupakan anak bungsu Raja Aethelwulf dari kerajaan Wesseks, Alfred adalah seorang anak emas. Ketika berumur lima tahun dia diantar ke kota Roma dan dia diterima oleh Paus dan disidi oleh Kepala Gereja yang sekaligus berdiri sebagai penyokongnya. Tentang kanak-kanaknya alfred begitu dikenali orang. Ibu Alfred mendorong putra-putranya untuk membaca bahasa sakson. Kepada putranya yang pertama yang memenuhi tugas akan diberi buku sajak dalam bahasa Sakson. Dan Alfred dapat meraih buku berharga itu dan dia mampu menulis dan membaca dalam bahasa latin sesudah dia berumur 22 tahun.
Sebagai seorang raja Alfred ingin hidup secara damai dengan tetangganya dengan tapal batas Utara kerajaannya yaitu negara Denmark yang menyerang dan menduduki kebanyakan negara Inggris sudah berabad-abad lamanya. Ketika tentara Denmark dipukul mundur, alfred menawarkan gencatan senjata yang diikuti dengan pembayaran sejumlah kilo emas kepada Raja Gutrhum. Dan raja Denmark berjanji hidup damai selama-lamanya tetapi ia mengingkari janjinya, dengan menyerang wesseks, penghianatannya dihukum oleh Tuhan berupa tautan yang menenggelamkan 5000 serdadu tentara Denmark tenggelam mati. Tetapi ia berjanji lagi untuk hidup secara damai dan tentara alfred terpukul mundur dan terpaksa alfred meloloskan diri. Tetapi dia tidak putus asa, dia mulai mengumpulkan kelompok-kelompok gerilnya dengan serangan disana sini sampai alfred mempunyai dukungan lagi dengan warganya sampai turun kemedan peperangan. Sesudah mengalami waktu paling gelap ia menerima kemenangan secara gemilang dan raja Gutrhum menyerah tanpa syarat dan raja Gutrhum rela bersama anggota-anggotanya masuk ke agama Kristen. watak Alfred yang berakar dalam iman Kristen nampak dalam kekalahan dan kemenangannya. Oleh karena Alfred dalam kekalahannya terus bertekun dalam tujuannya sehingga dia dikatakan seorang pendidik besar, seperti Raja Karel, dia pun mencari para sarjana yang bekerja di wesseks. Dengan begitu ia membuka pengetahuan yang dikunci dalam banyak naskah. Dia juga menerjemahkan buku berjudul pengembalaan dari bahasa latin ke bahsa Inggris. Karena Pendidikan Agama Kristen sulit dilaksanakan karerna belum ada buku, maka ia harus belajar dari buku-buku agar pelajar dapat mempertimbangkan berbagai pendapat untuk memutuskan pendapat pribadi. Karena itu Alfret menjadi bintang bercahaya karena ia menjadi guru Agung bagi bangsanya.
2.4.3.     Rabanus Maurus (776-856)
                          Marunus lahir di Mainz dan belajar teologi di Paris pada sekolah yang didirikan missionaris Inggris. Diantaranya termasuk Alkwin yang sudah kita ketahui memiliki peranan penting dalam rencana pendidikan yang diperakarsai oleh Karel Agung. Dan karna mutu prestasi Maurus ini maka dia dinamakan Guru pertama di Jerman. Dalam karangan yang berjudul “Pendidikan Bagi Kaum Imam”, ia menitik beratkan pentingnya artes liberales sebagai dasar untuk pendidikan teologi. Meskipun teologi dalam arti sempit bukanlah Pendidikan Agama Kristen, namun pikiran Maurus layak dimasukkan ke dalam sejarah Pendidikan Agama Kristen karena pada pokoknya Pendidikan Agama Kristen di jemaat bermutu pad kepemimpinan. Dan menurut pendapat cully, karangan Maurus masih mampu menentang pemikiran siapa yang berminat pada pendidikan teologi. Maurus selalu berusaha untuk menghasilkan seorang pelayan yang mempunyai pengetahuan berimbang. Untuk maksud itu ia mempertahankan pokok-pokok seni Liberal sebagai yang wajib dalam pendidikan teologi dan ketujuh pokok seni liberal itu dirumuskan serta dipertahankan satu persatu.
2.4.4.     Petrus Abelardus (1071-1142)
                          Petrus berasal dari Brittani Barat laut Paris, tempat yang diduduki oleh orang kasar yang lebih terkenal oleh jumlah warganya yang masuk tentara ketimbang yang memilih sarjana, Abelardus salah satu orang yang diberi kesempatan untuk belajar pada sekolah kadetral. Dia tidak duduk lama pada bangkunya sebelum para pengajarnya sadar akan kemampuan intelektualnya yang sangat. Oleh karena itu ia dipindahkan belajar dari sekolah kadetral chartres ke sekolah serupa di paris karena dengan waktu singkat saja dia bisa menguasai bidang dialektika. Selama di biara itu dia mengarang sejarah kemalanganku sebuah pengakuan pribadi. Sebagai seorang pelajar, Abelardus mempertajam pendekatan dialektis yang berusaha untuk menemukan kebenaran dengan jalan menentang salah satu sebutan dengan mengemukakan kebaikannya. Kemudian dia mengemukakan bagaimana pendapat keduanya dapat didamaikan. Sebutan baru yang dihasilkan dengan cara demikian pada kesempatan lain dapat pula dilawan gagasan lainnya dan seterusnya. Karangannya yang paling terkenal yang menerapkan isi praktek berpikir dialektis berjudul ya atau tidak (sic et non).
2.4.5.     Santo Thomas Aquino (1225-1274)
                          Tomas berasal dari keluarga dari keluarga bangsawan yang mempunyai hubungan dengan sejumlah keluarga bangsawan lainnya di Eropa. Dia lahir di Aquino dekat kota Naples di India. Pada umutr liam tahun dia masuk sekolah di Biara Benediktus di Gunung Kasino. Sembilan tahun kemdian dia diterima menjadi mahasiswa oleh Universitas Naples. Dia memiliki rumah sendiri dengan banyak pembantu dan pakaian mahal dan topi berbulu dan suka naik kuda pada waktu senggang. Ketika ia berumur 17 tahun, dia menolak semua hak miliknya dengan menukar pakaian sutra berwarna-warni dengan pakaian kasar warna hitam putih milik seorang biarawan Ordo Diminikan (Pengkotbah) yang menganut nilai kemiskinan dalam arti hidup karena hanya berminta-minta saja. Ibunya mengeluh kepada paus dan uskup Agung keuskupan Naples, guna menunjang Tomas untuk mengulang keputusannya dia menolak semua tawaran karena penafsiran harafiah atas ucupan Yesus tentang konsekuensi menjadi muridnya. Matius 14:37 mengatakan “barang siapa mengasihi Bapa lebih dari pada ibunya lebih dari padaKu, ia layak bagiku”. Dan keluarganya pun bertindak keras menculik Tomas ketika bepergian ke Paris dan membawa ke Benteng Gunung San Giovanni. Kepenjaraannya dan dua saudaranya meminta agar Tomas kembali ke keluarganya, tetapi Tomas menolak semua permintaan mereka dan Tomas juga di datangi perempuan cantik supaya kembali ke keluarganya, tetapi Tomas mengusir perempuan itu. Dan tomas masih tetap teguh pada pendiriannya untuk melayani Tuhan sebagai Biarawan Dominikan.
                          Tomas dipenjarakan selama 18 bulan, sesudah keluar dari penjara Tomas bepergian menyeberangi pegunungan Alphen pada musim salju. Ia belajar disana dengan air muka sangat serius, dia juga jarang mengobrol karena ia memiliki tekad memperoleh manfaat sebesar mungkin dari kesempatan yang ada baginya. Pada tahun 1245, Tomas diundang mengikuti Almertus ke Paris untuk mengajar dan melanjutkan studynya untuk mencapai Doctor. Mulai tahun 1261, dia dipanggil ke Roma oleh Paus Urbanus IV dan selama sebelas tahun berikutnya dia memberi kuliah pada Universitas di Roma, Pisa, Bologna. Pada tahun 1274, Paus Gregorius X memanggil Tomas menghadiri Konsili di Lyons (Prancis). Tetapi dia jatuh sakit dijalan, sesuai dengan permohonannya agar mereka membacakan Kidung Agung untuknya dan saat pembacaan Kidung Agung untuknya dia pingsan dan dia menyerahkan dirinya pada Tuhan. Tomas meninggal tanggal 7 Maret 1274, pada umurnya ke 48 atau 49. Tahun 1323, Tomas dijadikan seorang santo oleh Gerejanya, doctor pengajar bersifat malaikat.
2.4.6.     Jean De Gerson (1163-1429)
                          Pendidik besar ini berasal dari Gerso di Perancis (1377 sampai 1384), dia mempelajari teologi pada Kolegia Navarre bagian dari Universitas di Paris dan dibawah perlindungan Adipati dari Bergundi. Dia diutus oleh universitas Paris ke Roma untuk mengambil bagian dalam perdebatan tentang pengajaran Immakulata Maria atau Maria dikandung tak ternoda. Dia merupakan peserta aktif dalam Konsili Pisa tahun 1409 yang bermaksud mencari jalan untuk memulihkan perpecahan dalam tubuh Kristus berupa dua paus yang bersaingan satu sama lainnya. Sesudah keputusan resmi diambil dan seorang Paus batru dipilih, Gerson dipilih untuk membawakan pidato pengukuhan yang dialamatkan kepada Paus Alexandria V. Tetapi usaha konsili gagal karena kemudian terdapat tiga Paus bukan satu, dalam urusan Konsili yang diselenggarakan di kota  konstanta 1415 Gerson memainkan peranan penting, khususnya perkara Yohanes Hus. Dis jugs mengarang buku untuk mempertahankan diriyaitu on loading children  to cristh. Nampaknya dalam jabatan gembala tergabung jembatan guru, dalam arti Pendidikan Agama Kristen merupakan pengalaman Rohani yang intelektual.
III.    DAFTAR PUSTAKA
Boehlke, Robert R, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, Jakarta : BPK-Gunung Mulia, 2011


[1] Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta : BPK-Gunung Mulia, 2011), 153-258

Tidak ada komentar:

Posting Komentar