Pendidikan
Agama Kristen Pada Abad Pertengahan (Abad ke-6 sampai Abad ke-14)[1]
I.
PENDAHULUAN
Pada
sajian sebelumnya kita telah membahas sajian tentang PAK pada masa kuno dan PAK
pada abad 2 dan abad 4. Dan pada pertemuan kali ini kita akan membahas tentang
Pendidikan Agama Kristen pada abad pertengahan, dimana pada masa ini akan
mempelajari tentang Wadah Pedagodis pada PAK yang dikembangkan melalui jemaat.
Semoga sajian ini dapat menambah wawasan kita.
II. PEMBAHASAN
2.1. Latar Belakang PAK pada Abad Pertengahan
Ketika tentara Gotik dibawah
komandan Raja Alarik masuk ke kota Roma pada tanggal 24 Agustus tahun 410 M.
Kemegahan kota itu sudah berlalu meskipun secara resmi ia masih tetap hidup
sebagai kerajaan Romawi sampai tahun 476 M. Dan dibagian Timur sampai tahun
1453 M. Sementara itu, pelbagai Paus mengambil kekuasaan umum yang ditinggalkan
oleh kejatuhan semua lembaga Romawi. Dan proses itu terjadi secara
berangsur-angsur sampai puncak ketika Paus Gregorious Agung (590-604) mengklaim
mahkota dan tongkat Raja sebagai milik Kepausan. Dan dia hanya mewujudkan kepausan
dalam arti luas yang tersirat dalam mandat yang diberikan kepada Petrus oleh
Tuhan Yesus sebagaimana yang tertulis dalam kitab Matius 16:19 “Kepadamu akan
ku berikan kunci kerajaan sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di
sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepasa di sorga”. Jadi
kekuasaan di gereja tidak hanya mengurusi rohani saja, tetapi termasuk urusan
politis. Pada pokoknya kekuasaan kunci itu mencapai puncaknya secara simbolis
ketika Karel raja negeri Frank dinobatkan sebagai raja kerajaan Roma suci oleh
Paus Leo III pada hari natal tahun 800.
Pada tahun 1077 di Kannosa, Italia
Utara, persaingan antara Kaisar dan Paus berlangsung dalam bentuk amat dramatis
ketika Paus Gregorious VII menang atas diri kaisar Henri IV dari Kerajaan Roma
Suci walaupun hanya sementara saja. Tujuh tahun kemudian, Kaisar Henri masuk
Italia kembali. Sebagai catatan kaki yang perlu diingat pengalaman pahit raja
Henri itu hidup kembali dalam ucapan Reichskanselar Otto Von Bismarch dari
Prusia Bismarch berbicara tahun 1871 “kami tidak akan pergi ke Kanossa”.
Sesudah Kaisar Henri dan Paus Gregorius VII wafat, perjuangan antara kutup
kekuatan itu diwariskan kepada penggantinya pada tahun 1299.
Mulai tahun 1378, kepausan di
Avignon tetap berlangsung sementara di Roma Paus yang bersangpun dinobatkan
pula, dan selama 40 tahun masing-masing mengangkat uskup menjadi anggota Kolege
Kardinal seakan-akan Paus yang lainnya tidak ada. Dan raja Sigismund
mengeluarkan undangan yang dikirim ke uskup, biarawan, sarjana, pastor, dan
yang lainnya agar semua berkumpul pada tahun 1414 dikota konstan dekat tapal
batas negeri swiss. Mereka bekerja disana sampai tahun 1418. Tentang
keterlibatan mereka ke Yohannes Hus, mereka mempertahankan diri dengan jalan
mengutip ucapkan Kayafas (Yoh. 11:50b).
Dan nampaknya Pendidikan Agama
Kristen yang mencerminkan keadaan budaya yang merupakan lingkungan luas dari
pada jemaat, yaitu kebudayaan yang tuna aksara. Sementara itu terdapat dua
macam siasat yang pertama ruang lingkupnya kebanyakan kepada warga jemaat
sedangkan kedua kebanyakan diarahkan kepada warga dengan jumlah yang secara
nisbi sedikit sekali. Sesuai dengan kedua sifat itu, Pendidikan Agama Kristen
yang nampak pada abad pertengahan akan dibahas dibawah ini.
2.2. Pendidikan Agama Kristen Melalui
Agama dan Rupa Lambang
Gaya berfikir secara simbolis
mempunyai sejarah panjang, khususnya dikembangkan dalam kebudayaan dimana saja
untuk menyampaikan kebenaran rohani. Alasannya karena alasan apapun melibatkan
para pemeluknya dalam keprihatinan-keprihatinan yang mustahil dibatasi dengan
dunia ini saja. Justru keadaan bersejarahlah dari Gereja Abad Pertengahan
merupakan tanah subur bagi perkembangan simbol-simbol yang mendobrak hati
jemaat, antara lain :
2.2.1.
Gereja
mendidik melalui Sakramen Baptisan
Persyaratan ketat yang dikembangkan Gereja Purba
yang wajib dipenuhi oleh setiap calon baptisan sebelum diterima sebagai anggota
sah. Bagi Gereja Purba, kebudayaannya menghargai kepentingan pendidikan. Oleh
karena itu calon pendeta maupun sidi rela dalam melibatkan diri dalam pembinaan
yang memupuk daya berpikir para pesertanya dan memperlengkapi mereka dengan
peralatan yang diperlukan agar mampu bertindak sebagai murid Tuhan dan Guru
Agung mereka. Kemudian pada abad pertengahan lingkungan luas demikian tidak ada
lagi. Dan bagi para warga jemaatnya tradisi menghargai kehidupan berfikir sudah
hilang. Banyak Pendeta atau imampun belum dididik seperti yang dialami para
pemimpin yang melayani jemaat-jemaat Gereja Purba. Gereja abad pertengahan
mengembangkan tindakan yang cenderung mengutamakan kesan atau perasaan dalam diri
para warga daripada menambah sejumlah pengetahuan, pengertian dan pengabdian
diri. Sebagai contoh tentang kemerosotan persyaratan bagi calon baptisan yang
dimaksudkan isi dari bagian liturgi sakramen
gelasiusyang berasal dari abad ke-8 dan dikembangkan di negeri perancis.
2.2.2.
Mendidik
melalui Sakramen Misa
Selama warga jemaat beribadah,
mereka dididik melalui panca indera yang menolong mereka menyerap sebagian dari
makna simbolis dari tindakan yang sedang berlangsung, yaitu :
1.
Mereka melihat sang Imam dengan baju
jubah yang sampur dan warnanya sesuai dengan warna khusus yang ditentukan. Dan
dengan itu mereka semakin sadar dengan peristiwa-peristiwa penting dalam
kehidupan pelayanan Yesus.
2.
Mereka melihat jendela berwarna yang menunjuk
pada sejumlah peristiwa alkitabiah dan gerejawi khususnya tahap-tahap dalam
jalan ke Golgata.
3.
Mereka mencium asap kemenyan yang sedang
dibakar, suatu pengalaman yang mempertinggi misterinya .
4.
Mereka sedang mendengar suara kor yang
mengisi ruangan. Gereja dengan musik sorgawi disamping ucapan imam yang membaca
kata-kata liturgis.
Dalam pelaksanaan
Sakramen Misa nampaknya pula akar dalam Gereja Purba tetapi seperti halnya sama
dengan sakramen baptisan bentuk lahirnya saja yang ditetapkan sedangkan maknanya
dilalaikan.
2.2.3.
Mendidik
melalui Drama Agamawi
Peranan Drama pada Gereja abad
pertengahan sangat berbeda dengan pendapat para Gereja Purba. Bagi mereka yang
terakhir ini jabatan pemain atau aktor adalah diantara sekian banyak panggilan
hidup yang dilarang keras bagi orang Kristen oleh Tertullianus. Teater
dinamakan Gereja Setan. Dan pendapat Agustinus yaitu dia mengakui bagaimana dia
menikmati drama ketika ia masih pemuda, tatapi sesudah ia masuk Kristen dia
mendekati masalah drama secara hati-hati. Drama itu tidak ditolak begitu saja,
melainkan dapat dipakai asalkan dibersihkan dari semua unsur drama Kafir. Dan
perbedaan ini akhirnya disimpulkan bahwa Drama diusir dari Gereja. Teater yang
ditolak Gereja Purba nampak lagi dalam gereja abad pertengahan.
Tiga bentuk drama lainnya tidak
berakar dalam pengajaran katekumenat dan oleh itu boleh dipandang sebagai
perkembangan baru. Yang pertama ini memenuhi hasrat rakyat jelata untuk
mengalami sesuatu yang lain lagi dari pada kesulitan hidup yang merupakan darah
daging mereka setiap hari. Bagi warga ini, penderitaan Yesus sudah terlampau
dekat dengan pengalaman mereka. Untuk memulai hasrat itu gereja mulai
mengembangkan drama yang berporos kelahiran Yesus.
Drama Everyman itu dibuka oleh seorang pembicara
yang tampil di depan para hadirin sambil menyatakan pokok utama yang akan
dipentaskan yaitu kematian. Tidak ada seorangpun yang menghindarkan diri dari
pengalaman meninggal itu. Setiap orang akan dipanggil raja Sorga untuk
mempertanggung jawabkan kehidupannya.
Yang ketiga Jalan ke Salib, setiap
warga dapat mengikut Yesus selama berjalan ke Golgata. Dengan bentuk pedagogis
yang tidak memerlukan kemampuan membaca para pelajar bukan hanya menonton atau
mendengar saja. Merekalah pemainnya. Drama baru ini muncul di Eropa Barat
sekitar abad ke-14 sebagai akibat pulangnya para pejiarah dari tanah suci.
Disana mereka telah mengunjungi tempat-tempat geografis yang dikenal Yesus
khususnya tempat Yesus mengalami minggu-minggu sengsara.
2.2.4.
Mendididk
melalui Seni Lukis/Patung dan Buku Naskah yang Berhiasan (Illuminate
Manuscripts)
Penggunaan seni lukis dan patung
untuk memperlihatkan sejumlah peristiwa dari Alkitab sudah dipakai gereja untuk
mendidik hampir sejak semula. Dari Perjanjian Lama diambil cerita-cerita Adam
dan Hawa, Air Bah, Abraham, khususnya pengorbanan Ishak. Isi dari perumpamaan
keempat kitab injil amat mendorong pada kreatif seniman. Tetapi bentuknya
berangsur-angsur berubah. Bukan hanya gambar rupa Allah Anak, Allah Bapa saja
yang dilukiskan ataupun diukir. Para seniman ingin menyadarkan para warga akan
Allah berupa Trinitas tanpa mengurangi keesaannya. Salah satunya yang disambut
baik pada abad ke-12 dan ke-15 dinamakan Gnadenstuh atau kursi kasuh karunia
karna memang tempat asalnya Jerman. Contoh keduanya yaitru bertema Baptisan
Yesus yang digambarkan Yesus berpakaian kain pinggang saja dan berdiri dalam
kolam kecil bukan sungai. Dan Dia sedang di Baptis oleh Yohannes.
2.2.5.
Mendidik
melalui Seni Bangunan Gereja-Gereja
Pada permulaannya, gereja tidak
memiliki gedung-gedung khusus untuk pelayanan ibadah bersama sungguhpun
demikian para warga tidak merasa diri dirugikan. Karna mereka memandang dirinya
sebagai musafir yang berjalan dari bumi ini dengan semua kesusah payahan menuju
kota Sorgawi sambil menanti-nanti kedatangan Tuhan Yesus yang sudah bangkit.
Untuk orang-orang berkeyakinan. Dengan demikianmereka memanfaatkan gedung
Basilika yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan perdagangan dan kenegaraan
Roma. Daerahnya memperlihatkan sebuah gedung persegi panjang. Sesudah diambil
alih untuk maksud Gerejawi. Gedung Basilika dengan langit-langit melambangkan
landasan Iman yang tidak bergoyahkan. Diluarnya terdapat banyak tantangan bagi
para imam warga, tetapi didalamnya ketebalan tembok dan mesbah melambangkan
kota yang tidak akan goncang yang sama dengan Allah sendiri (Mazmur 46:6, 8).
2.3. Wadah
Pedagogis yang Dikembangkan pada Abad Pertengahan
Bagi masyarakat Abad Pertengahan
yang pada umumnya Yuna Aksara, para warga dijangkau oleh rencana Pendidikan
Agama Kristen secara formal sedikit sekali. Tetapi beberapa wadah bertumbuh
untuk pengajaran Kristen, keterampilan membaca dan menulis, khususnya kepada
kaum muda. Disamping jemaat wadah paling umum, akan dibahas sumbangan dari
empat wadah lainnya yaitu sekolah katedral, universitas lembaga kesatriaan dan
biara.
2.3.1. Jemaat itu sendiri sebagai Wadah
Paling Umum
Wadah yang paling umum akan diserap
dalam saksi tersendiri, karena masih ada beberapa pengalaman bersifat Pedagogis
yang berlangsung pada Jemaat, yaitu ketujuh sakramen dan beberapa kepingan
pengetahuan minimal yang diajarkan sedikit banyaknya kepada para warga jemaat.
Sakramen-sakramen itu dimaksudkan
supaya anugrah disalurkan kepada setiap orang yang lazimnya menghadapi
kemelut-kemelut kehidupan. Kemelut kelahiran : Gereja menyalurkan anugrah
berupa sakramen Baptisan kepada si bayi yang terancam oleh “seribu satu” macam
penyakit dan ancaman lainnya.
Pendidikan tidak langsung melalui
tujuh sakramen itu masih memerankan peranan bermakna dalam Gereja Katolik Roma
modern tetapi berbeda sekali dengan gereja pada abad pertengahan, pendidikan
tidak langsung tersebut merupakan lingkungan luas bagi pendidikan Agama Kristen
yang direncanakan Gereja Katolik Roma modern dan bukan kegiatan pokok. Namun
pendidikan agama Kristen melalui rencana teratur walaupun dalam bentuk
sederhana. Pada tahun 1281 Yohannes Peckham, uskup agung dari centerbury di
Inggris, menyusun lambeth constitution yang
terdiri dari sejumlah ringkasan, sejumlah teologis yang perlu diketahui oleh
para imam. Kemudian isi yang sama wajib diberitahukan empat kali kepada kaum
awam, yaitu Pengakuan Iman Rasuli, Dasa Firman, Kedua Hukum Baru yang diberlakukan
Yesus, Ketujuh Kebaikan Utama, Ketujuh Kebaikan Brahmat, dan Ketujuh Sakramen.
Dan pokok tersebut menjadi darah daging Pendidikan Agama Kristen pada abad
pertengahan dan tidak ada yang lebih berbobot dari pada Doa Bapa Kami dan
Pengakuan Iman Rasuli. Dan kesimpulan itu didukung oleh ucapan Joan’ Arc pada
pengadilannya tahun 1431. Tinjauan itu ditunjang pula dengan laporan yang
dikeluarkan oleh seorang Biarawan ordo Dominikan yang ingin supaya warga jemaat
hidup setia kepada Roh Kudus. Tetapi usahanya tidak berbuah sesuai dengan yang
diharapkan.
2.3.2.
Sekolah
Kadertal sebagai Wadah Pendidikan
Barang kali sekolah pertama itu
berasal dari keputusan Konsili Teledo (Spanyol) pada tahun 633 M. Menurut
keputusan tersebut semua imam muda diwajibkan mempelajari isi alkitab, Hukum Gereja dan keterampilan menyanyi.
Semuanya itu berada dalam sebuah bimbingan gerejawan berjabatan tinggi.
Bagi sejumlah imam muda yang
belajar pada sekolah kadetral itu pendidikannya bersifat penataran, tetapi bagi yang lainnya isinya sangat dasariah dalam
arti mereka ini tuna aksara dan karena itu harus diajarkan menulis dan membaca.
Rupanya sekolah-sekolah kadertal berkembang terus menerus sesudah keputusan
Konsili Teledo, tetapi Gereja harus menunggu sampai tahun 1179, ketika diadakan
konsili Lateran di Roma sebelum wadah pendidikan Agama Kristem menerima status
dan struktur tetap.
Menurut keputusan Lateran, setiap
uskup wajib mengangkat seorang sarjana untuk mengajar pastor-pastor disamping
pelajar-pelajar imam muda dan miskin yang bukan pelayan Gereja. Pada tahun 1215
diselenggarakan kembali komisi kembali di Lateran yang memberlakukan kembali
keputusan komisi Lateran pada tahun 1197, tetapi dengan isi tambahan sehingga
gereja yang bukan Kadetral yaitu menjadi pusat keuskupan juga wajib mengangkat
para ahli untuk mengajar baik pelayan Gereja maupun laki-laki muda miskin. Pada
abad ke-12, sekolah Kadetral di Chartres mencapai pendidikan paling bermutu.
John mengajarkan gaya yang nampak dalam diri Barnadus ketika ia mengajar
sekolah Kadetral Chartres. Tata cara yang diajarkan dalam bentuk kontekstual.
Kurikulumnya terdiri dari
pokok-pokok pelajaran yang menjelaskan imam Kristen disamping tujuh pokok seni
liberal yang berasal dari akar subur Aristoteles, yaitu Trivium yang merupakan
bagian studinya terdiri atas vak : tata bahasa, retorika dan logika. Untuk
quadrivium, bagian atas terapat study berikut : ilmu musik, ilmu ukur, ilmu
hitung dan ilmu bintang. Kurikulum berikut dinamakan kurikulum Liberal oleh
Uskup John.
2.3.3.
Universitas
Sebagai Wadah Pendidikan agama Kristen
Pada
mulanya universitas dibentuk demi pertahanan diri para pelajar, karena tidak
jarang kaum muda berkumpul untuk belajar di bawah bimbingan beberapa ahli
berasal dari sejumlah negara asing, karena itu mereka gampang untuk menjadi
korban perlakuan yang tidak manusiawi yang dilakukan ileh para warga setempat.
Untuk menjaga keamanan yang diperlukan demi maksud belajar, mereka mendirikan
universitas. Kata universitas berasal dari kata Yautu Unus dan Versum. Unus
berarti satu dan Versum berartikan menjadikan. Oleh karena itu artinya
menjadikan satu atau menjadikan satu keutuhan.
Fakultas
Arteslah yang didirikan pertama-tama oleh universitas, suatu serikat pelajar
dan pengajar. Pokok kuliah yang diberikan para dosen fakultas tersebut berporos
pada pokok ketujuh pokok seni Liberal yang merupakan kurikulum wajib. Dan
universitas paris justru mengutamakan travium
yang paling cenderung diutamakan, sedangkan di fakultas artes-lah dari
universitas Inggris quqdrivium yang
paling cenderung menerima perhatian banyak. Para dosen cenderung memanfaatkan
tiga pokok pendekatan.
1.
Biasanya seorang dosen berdiri di depan
kelas dengan membacakan sebuah karangan dari masa Purba atau dari Bapa Gereja.
2.
Ia memberi tenggapan terhadap isinya.
3.
Dalil-dalil yang terdapat di karangan
tersebut diperdebatkan oleh mahasiswa.
2.3.4. Kesatriaan sebagai wadah Pendidikan
Agama Kristen
Khususnya
bagi anak laki-laki golongan bangsawan, lembaga kesatriaan merupakan wadah
keempat yang disediakan untuk mendidik kaum muda dalam unsur-unsur Iman
Kristen, walaupun memang ruang lingkupnya terbatas baik dari segi jumlah
pelajar yang terlibat di dalamnya maupun menurut isi kurikulumnya. Hubungan
lembaga kesatriaan dengan gereja bukanlah cerita yang memuliakan nama-Nya,
justru sebaliknya.
Tahap-tahap
pendidikan seorang calon kesatria termasuk dimensi Agama Kristen. tahap
pertama, seorang lelaki berumur tujuh sampai empat belas tahun memperoleh
tempat belajar sebagai pesuruh dirumah/istana seorang bangsawan. Disana ia
membersihkan meja, memelihara pakaian tuan termasuk tugas membersihkan baju
bajanya. Sebagai imbalannya ia diberi kesempatan untuk latihan bernyanyi,
memainkan musik, membaca, menulis, belajar naik kuda dan menggunakan pedang.
Pesuruh tersebut mempelajari pokok-pokok Iman Kristen “Doa Bapa Kami” pengakuan
kedua belas Iman Rasuli, sejumlah cerita Alkitab, kebijakan-kebijakan Kristen,
unsur-unsur dari Misa dan Nyanyian Rohani. Tahap kedua, calon berumur empat
belas tahun atau sedikit lebih tua. Ia diangkat menjadi seorang pembantu di
kandang. Dia turut memelihara kuda besar yang diperlukan untuk menanggung berat
badan kesatriakesatria dan baju bajanya, membantu pertandingan yang berlangsung
untuk memepertajam keahlian bertempur dari
punggung kuda yang sedang berlari. Dan ia diberi kesempatan untuk naik
kuda menggunakan pedang dan sasaran latihan saat kudanya mencongkak dengan
kencang. Dia juga dapat mengikuti tuannya ke medan pertempuran walaupun dia
tidak terlibat secara langsung. Dan pendidikannya diteruskan dengan vak ilmu ukur,
iumur, berbicara di depan umum dan kadang-kadang dia mempelajari bahasa latin.
Dan dia pun dilantik dan mengaku dosa
dan memakan Roti Kristus dari tangan imam. Dan disitu pelayan Gereja
mengucapkan nama Allah Anak, Allah Bapa, Allah Roh Kudus.
2.3.5.
Sekolah
Diselenggarakan Biara
Kaum penghuni biara berusaha mewujudkan Injil
Kristus dalam semua kegiatan mereka, termasuk dalam kewajiban belajar.
Pentingnya pendidikan sudah tertulis di piagamnya dan tidak bergantung pada
sikap kepala biara itu. Berbeda sekali dengan yang dikenal oleh biara. Apabila
menurut peraturannya sebagian dari para biarawan yang berada di tempat itu
wajib melibatkan diri dalam urusan pedagogis maka sudah ada struktur yang
menyongkong pendidikan yang terlepas dari pendapat abbot sendiri. Dialah
pelayan dari peraturan-peraturan abadi yang merupakan pedoman bagi penguyuban
setempat yang dikepalainya. Tetapi gerakan kebiaraan bukanlah khas Kristen,
karena ia dikenal dengan agama lain walaupun terdapat perbedaan cara-cara
bagaimana parapemeluk setiap agama mengembangkan kehidupan bertapa mereka,
namun mereka satu dalam keyakinan bahwa pertumbuhan rohani menuntut mereka
mengundurkan diri dari urusan sehari-harimereka yang dikenal dengan kaum seiman
mereka, bagi umat Kristen kehidupan bersama di biara di ilhami oleh isi khotbah
di bukit (Matius 6:19-24).
2.4. Beberapa Pendidik Besar
Pendidik besar yang berusaha
memperbaiki keadaan yang dikenal warga-warga Eropa Barat, yaitu :
2.4.1.
Karel
Agung (742-814)
Tahun
771 karel bersama adiknya Karloman mengambil alih kekuasaan kerajaan Frank pada
kewafatan ayah mereka Pepin yang pendek. Dan ketika adiknya sendiri meninggal
tahun 771, Karel berkuasanpenuh atas kerajaan yang mencakup sebagian atau
seluruh negara-negara modern, yaitu : Perancis, Jerman, Belanda, Denmark,
Australia, Italia dan Spanyol. Prestasinya gemilang dibidang pemerintahan dan
diplomatis yang diimbangi oleh keberhasilannya di bidang militer, kesenian,
gereja dan pendidikan. Dan dia menerima predikat kehormatan Agung. Dia seorang
raksasa diantara semua orang dibangsanya. Puncak kehidupannya tercapai pada 25
Desember pada tahun 800, dia dinobatkan sebagai Kaisar kerajaan Romawi suci
oleh Paus Leo III. Pokok-pokok membanggakan hatinya berkaitan dengan usaha
merajai negara yang berporos pada warga yang saleh dan terdidik.
Raja
Karel Agung sama dengan seperti raja yang lainnya, yang tidak enggan
menggunakan kekuasaan militer untuk mencapai tujuan negara namun berbeda dengan
kebanyakan dari mereka. Dia sangat cerdas sehingga ia membangun kerajaannya
atas batu, yaitu batu pendidikan. Bagi karel pendidikan itu bukan baik dengan
orang lain saja, ia pun ingin diajar dan dia adalah teladan bagi siapa saja
entah dia muda atau dewasa. Karel berbicara secara lancar dan mampu mengucapkan
pemikiran secara jelas, dia dapat berbicara dalam beberapa bahasa asing. Beliau
murah hati dan penyongkongannya terhadap semua orang terpelajar. Dia belajar
tata bahasa dari Petrus, seorang diaken dari pisa yang telah lanjut usianya.
Dan untuk mata pelajaran lainnya, pengajar pokok adalah Alkwin yang merupakan
seorang diaken pula. Tahun 787 karel mempertinggi pendidikan, khususnya dia
mengeluarkan proklamasi pedagogis yang amat bermakna dalam sejarah pendidikan.
2.4.2.
Alfred
Agung (742-814)
Alfred lahir tahun 849, ia merupakan anak bungsu
Raja Aethelwulf dari kerajaan Wesseks, Alfred adalah seorang anak emas. Ketika
berumur lima tahun dia diantar ke kota Roma dan dia diterima oleh Paus dan
disidi oleh Kepala Gereja yang sekaligus berdiri sebagai penyokongnya. Tentang
kanak-kanaknya alfred begitu dikenali orang. Ibu Alfred mendorong
putra-putranya untuk membaca bahasa sakson. Kepada putranya yang pertama yang
memenuhi tugas akan diberi buku sajak dalam bahasa Sakson. Dan Alfred dapat
meraih buku berharga itu dan dia mampu menulis dan membaca dalam bahasa latin
sesudah dia berumur 22 tahun.
Sebagai seorang raja Alfred ingin hidup secara damai
dengan tetangganya dengan tapal batas Utara kerajaannya yaitu negara Denmark
yang menyerang dan menduduki kebanyakan negara Inggris sudah berabad-abad
lamanya. Ketika tentara Denmark dipukul mundur, alfred menawarkan gencatan
senjata yang diikuti dengan pembayaran sejumlah kilo emas kepada Raja Gutrhum.
Dan raja Denmark berjanji hidup damai selama-lamanya tetapi ia mengingkari
janjinya, dengan menyerang wesseks, penghianatannya dihukum oleh Tuhan berupa
tautan yang menenggelamkan 5000 serdadu tentara Denmark tenggelam mati. Tetapi
ia berjanji lagi untuk hidup secara damai dan tentara alfred terpukul mundur
dan terpaksa alfred meloloskan diri. Tetapi dia tidak putus asa, dia mulai
mengumpulkan kelompok-kelompok gerilnya dengan serangan disana sini sampai
alfred mempunyai dukungan lagi dengan warganya sampai turun kemedan peperangan.
Sesudah mengalami waktu paling gelap ia menerima kemenangan secara gemilang dan
raja Gutrhum menyerah tanpa syarat dan raja Gutrhum rela bersama
anggota-anggotanya masuk ke agama Kristen. watak Alfred yang berakar dalam iman
Kristen nampak dalam kekalahan dan kemenangannya. Oleh karena Alfred dalam
kekalahannya terus bertekun dalam tujuannya sehingga dia dikatakan seorang
pendidik besar, seperti Raja Karel, dia pun mencari para sarjana yang bekerja
di wesseks. Dengan begitu ia membuka pengetahuan yang dikunci dalam banyak
naskah. Dia juga menerjemahkan buku berjudul pengembalaan dari bahasa latin ke
bahsa Inggris. Karena Pendidikan Agama Kristen sulit dilaksanakan karerna belum
ada buku, maka ia harus belajar dari buku-buku agar pelajar dapat
mempertimbangkan berbagai pendapat untuk memutuskan pendapat pribadi. Karena
itu Alfret menjadi bintang bercahaya karena ia menjadi guru Agung bagi
bangsanya.
2.4.3.
Rabanus
Maurus (776-856)
Marunus
lahir di Mainz dan belajar teologi di Paris pada sekolah yang didirikan
missionaris Inggris. Diantaranya termasuk Alkwin yang sudah kita ketahui
memiliki peranan penting dalam rencana pendidikan yang diperakarsai oleh Karel
Agung. Dan karna mutu prestasi Maurus ini maka dia dinamakan Guru pertama di
Jerman. Dalam karangan yang berjudul “Pendidikan Bagi Kaum Imam”, ia menitik
beratkan pentingnya artes liberales sebagai dasar untuk pendidikan teologi.
Meskipun teologi dalam arti sempit bukanlah Pendidikan Agama Kristen, namun
pikiran Maurus layak dimasukkan ke dalam sejarah Pendidikan Agama Kristen
karena pada pokoknya Pendidikan Agama Kristen di jemaat bermutu pad
kepemimpinan. Dan menurut pendapat cully, karangan Maurus masih mampu menentang
pemikiran siapa yang berminat pada pendidikan teologi. Maurus selalu berusaha
untuk menghasilkan seorang pelayan yang mempunyai pengetahuan berimbang. Untuk
maksud itu ia mempertahankan pokok-pokok seni Liberal sebagai yang wajib dalam
pendidikan teologi dan ketujuh pokok seni liberal itu dirumuskan serta
dipertahankan satu persatu.
2.4.4.
Petrus
Abelardus (1071-1142)
Petrus
berasal dari Brittani Barat laut Paris, tempat yang diduduki oleh orang kasar
yang lebih terkenal oleh jumlah warganya yang masuk tentara ketimbang yang
memilih sarjana, Abelardus salah satu orang yang diberi kesempatan untuk
belajar pada sekolah kadetral. Dia tidak duduk lama pada bangkunya sebelum para
pengajarnya sadar akan kemampuan intelektualnya yang sangat. Oleh karena itu ia
dipindahkan belajar dari sekolah kadetral chartres ke sekolah serupa di paris
karena dengan waktu singkat saja dia bisa menguasai bidang dialektika. Selama
di biara itu dia mengarang sejarah kemalanganku sebuah pengakuan pribadi.
Sebagai seorang pelajar, Abelardus mempertajam pendekatan dialektis yang
berusaha untuk menemukan kebenaran dengan jalan menentang salah satu sebutan
dengan mengemukakan kebaikannya. Kemudian dia mengemukakan bagaimana pendapat keduanya
dapat didamaikan. Sebutan baru yang dihasilkan dengan cara demikian pada
kesempatan lain dapat pula dilawan gagasan lainnya dan seterusnya. Karangannya
yang paling terkenal yang menerapkan isi praktek berpikir dialektis berjudul ya
atau tidak (sic et non).
2.4.5.
Santo
Thomas Aquino (1225-1274)
Tomas
berasal dari keluarga dari keluarga bangsawan yang mempunyai hubungan dengan
sejumlah keluarga bangsawan lainnya di Eropa. Dia lahir di Aquino dekat kota
Naples di India. Pada umutr liam tahun dia masuk sekolah di Biara Benediktus di
Gunung Kasino. Sembilan tahun kemdian dia diterima menjadi mahasiswa oleh
Universitas Naples. Dia memiliki rumah sendiri dengan banyak pembantu dan
pakaian mahal dan topi berbulu dan suka naik kuda pada waktu senggang. Ketika
ia berumur 17 tahun, dia menolak semua hak miliknya dengan menukar pakaian
sutra berwarna-warni dengan pakaian kasar warna hitam putih milik seorang
biarawan Ordo Diminikan (Pengkotbah) yang menganut nilai kemiskinan dalam arti
hidup karena hanya berminta-minta saja. Ibunya mengeluh kepada paus dan uskup
Agung keuskupan Naples, guna menunjang Tomas untuk mengulang keputusannya dia
menolak semua tawaran karena penafsiran harafiah atas ucupan Yesus tentang
konsekuensi menjadi muridnya. Matius 14:37 mengatakan “barang siapa mengasihi
Bapa lebih dari pada ibunya lebih dari padaKu, ia layak bagiku”. Dan
keluarganya pun bertindak keras menculik Tomas ketika bepergian ke Paris dan
membawa ke Benteng Gunung San Giovanni. Kepenjaraannya dan dua saudaranya
meminta agar Tomas kembali ke keluarganya, tetapi Tomas menolak semua
permintaan mereka dan Tomas juga di datangi perempuan cantik supaya kembali ke
keluarganya, tetapi Tomas mengusir perempuan itu. Dan tomas masih tetap teguh
pada pendiriannya untuk melayani Tuhan sebagai Biarawan Dominikan.
Tomas
dipenjarakan selama 18 bulan, sesudah keluar dari penjara Tomas bepergian
menyeberangi pegunungan Alphen pada musim salju. Ia belajar disana dengan air
muka sangat serius, dia juga jarang mengobrol karena ia memiliki tekad memperoleh
manfaat sebesar mungkin dari kesempatan yang ada baginya. Pada tahun 1245,
Tomas diundang mengikuti Almertus ke Paris untuk mengajar dan melanjutkan
studynya untuk mencapai Doctor. Mulai tahun 1261, dia dipanggil ke Roma oleh
Paus Urbanus IV dan selama sebelas tahun berikutnya dia memberi kuliah pada
Universitas di Roma, Pisa, Bologna. Pada tahun 1274, Paus Gregorius X memanggil
Tomas menghadiri Konsili di Lyons (Prancis). Tetapi dia jatuh sakit dijalan,
sesuai dengan permohonannya agar mereka membacakan Kidung Agung untuknya dan
saat pembacaan Kidung Agung untuknya dia pingsan dan dia menyerahkan dirinya
pada Tuhan. Tomas meninggal tanggal 7 Maret 1274, pada umurnya ke 48 atau 49.
Tahun 1323, Tomas dijadikan seorang santo oleh Gerejanya, doctor pengajar
bersifat malaikat.
2.4.6.
Jean
De Gerson (1163-1429)
Pendidik
besar ini berasal dari Gerso di Perancis (1377 sampai 1384), dia mempelajari
teologi pada Kolegia Navarre bagian dari Universitas di Paris dan dibawah
perlindungan Adipati dari Bergundi. Dia diutus oleh universitas Paris ke Roma
untuk mengambil bagian dalam perdebatan tentang pengajaran Immakulata Maria
atau Maria dikandung tak ternoda. Dia merupakan peserta aktif dalam Konsili
Pisa tahun 1409 yang bermaksud mencari jalan untuk memulihkan perpecahan dalam
tubuh Kristus berupa dua paus yang bersaingan satu sama lainnya. Sesudah
keputusan resmi diambil dan seorang Paus batru dipilih, Gerson dipilih untuk
membawakan pidato pengukuhan yang dialamatkan kepada Paus Alexandria V. Tetapi
usaha konsili gagal karena kemudian terdapat tiga Paus bukan satu, dalam urusan
Konsili yang diselenggarakan di kota konstanta 1415 Gerson memainkan peranan
penting, khususnya perkara Yohanes Hus. Dis jugs mengarang buku untuk
mempertahankan diriyaitu on loading
children to cristh. Nampaknya dalam
jabatan gembala tergabung jembatan guru, dalam arti Pendidikan Agama Kristen
merupakan pengalaman Rohani yang intelektual.
III. DAFTAR PUSTAKA
Boehlke, Robert
R, Sejarah Perkembangan Pikiran dan
Praktek Pendidikan Agama Kristen, Jakarta : BPK-Gunung Mulia, 2011
[1] Robert R.
Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan
Praktek Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta : BPK-Gunung Mulia, 2011),
153-258
Tidak ada komentar:
Posting Komentar